Berita Terbaru :
Reason Bulughul Maram Five in One 150 Ibadah Ringan Berpahala Besar Cant See You, Cant Hear You, But Love You (Buku 1)

Rabu, 31 Juli 2013

Sehat ala Rasulullah

06.00

AyoReading: Sehat ala Rasulullah~Kesehatan adalah salah satu nikmat Allah Ta’ala yang paling utama bagi seorang hamba. Bahkan sebagian menyebutkan bahwa kesehatan adalah kenikmatan yang paling utama secara mutlak. Oleh sebab itu, sangat pantas bagi mereka yang diberi taufik berupa kesehatan berusaha menjaganya dengan sebaik-baiknya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Dua kenikmatan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia; (yaitu) kesehatan dan waktu luang.”
Bahkan dalam hadits lain –dha’if (lemah) tetapi ada penguatnya-, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa yang pagi harinya dalam keadaan aman pada dirinya, sehat jasmaninya, dan memiliki bekal makanan pokok untuk hari itu, seolah-olah dunia telah diberikan semua kepadanya.”
Sehat adalah salah satu kenikmatan yang akan ditanyakan oleh Allah Ta’ala bagaimana kita memanfaatkannya. Allah Ta’ala berfirman:
“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. at-Takaatsur: 8)
Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Kenikmatan yang pertama ditanyakan kepada seorang hamba ialah (ketika dikatakan kepadanya), ‘Bukankah telah Kami sehatkan tubuhmu dan Kami beri kamu minum dengan air yang segar?’”
Siapa yang memerhatikan bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu melihat bahwa bimbingan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah petunjuk paling utama yang sangat mungkin digunakan untuk memelihara kesehatan. Dan upaya memelihara kesehatan ini lebih sering tergantung pada pengaturan pola makan dan minum yang tepat. Demikian pula pakaian, tempat tinggal, tidur, gerak, diam, hubungan suami-istri, dan sebagainya.
Banyak alasan yang mendorong kita untuk memerhatikan petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi sehat dan sakit. Sederhananya, sebagai seorang muslim kita tentu beriman kepada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Allah tidak menurunkan satu penyakit, tetapi juga menurunkan obatnya.”
Juga dalam Shahih Muslim, dari Jabir bin ‘Abdillah radiallahu ‘anhu, dia berkata,”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Setiap penyakit, ada obatnya. Apabila engkau tepat mendapatkan obat suatu penyakit, niscaya dia akan sembuh dengan izin Allah.”
Dan dari Usamah bin Syarik, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Sesungguhnya, Allah Azza wa Jalla tidak hanya menurunkan penyakit, tetapi juga menurunkan obatnya. Siapa yang tahu, dia pun mengetahuinya, adapun yang tidak tahu, dia tidak mengetahuinya.”
Penyakit yang dimaksud di dalam hadits-hadits di atas adalah semua penyakit, baik lahir maupun batin. Penyakit lahir adalah gangguan yang mengenai fisik kita, baik itu yang mengenai organ dalam tubuh kita maupun yang terlihat oleh kita. Adapun penyakit batin, adalah penyakit-penyakit yang menimpa hati dan jiwa.
Artinya, dalam menghadapi kedua penyakit ini kita sebetulnya tidak lepas dari tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya. Allah Ta’ala dan rasul-Nya memberi bimbingan tentang apa yang harus kita lakukan sebelum penyakit itu mengenai kita (pencegahan) dan pada saat dia menimpa kita (pengobatan).
Allah Ta’ala yang menurunkan penyakit dan obatnya berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)
Ini adalah dalil bahwa tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memelihara kesehatan dan menangani gangguan kesehatan adalah tuntunan yang paling baik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, dan mengarahkannya kepada seluruh manusia:
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS: Yunus: 57-58)
Kemudian firman Allah Ta’ala yang ditujukan kepada kaum mukminin:
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan al-hikmah.” (QS. al-Jumu’ah: 2)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. al-Israa`: 82)
Inilah salah satu keindahan ajaran Islam sebagai rahmat untuk seluruh manusia. Islam membimbing bagaimana mereka menjaga kesehatan –lahir batin- dan cara mengembalikan kesehatan tersebut, apabila dia terganggu oleh penyakit.
Menjaga kesehatan itu lebih baik daripada mengobati. Oleh sebab itulah yang kita dahulukan di sini adalah bimbingan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memelihara kesehatan. Hal ini jelas tidak lepas dari wahyu Allah Ta’ala yang menurunkan penyakit berikut obatnya. Dan bagaimana mungkin penyakit-penyakit itu mampu menandingi firman Allah Ta’ala, yang menciptakan alam semesta ini, termasuk penyakit tersebut?
Allah Ta’ala berfirman:
“…makan dan minumlah kalian, serta janganlah berlebih-lebihan…”
(QS. al-A’raaf: 31)
Dalam ayat ini Allah Ta’ala mengarahkan hamba-hamba-Nya agar memasukkan sesuatu ke dalam tubuh mereka, apakah itu makanan ataupun minuman, yang berguna bagi tubuh mereka, baik kadar maupun caranya. Apabila dilakukan secara berlebihan, atau tidak ada sama sekali, niscaya akan mengundang berbagai penyakit.
Bahkan, banyak ulama mengatakan bahwa ayat ini menghimpun seluruh makna yang terkait dengan kedokteran (kesehatan). Hal itu, karena seimbang dalam makan dan minum adalah asas utama upaya pemeliharaan kesehatan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada wadah yang diisi sepenuh-penuhnya oleh manusia, yang lebih buruk daripada perut. Cukuplah bagi anak Adam (manusia) itu makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Kalau mau tidak mau, harus diisinya juga, hendaklah dia isi sepertiganya untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napasnya.”
Hadits ini –demikian pula ayat di atas- menerangkan kepada kita bahwa makan dan minum secara berlebihan menjadi sebab timbulnya berbagai penyakit lahir dan batin.
Makan itu sendiri ada tiga derajat; kebutuhan, kecukupan, dan kelebihan. Dalam hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa suapan yang membuat tegak tulang punggung seseorang, sudah mencukupi. Kalaupun dia ingin menambah, hendaknya sekadar mengisi sepertiga lambungnya, sedangkan dua pertiga sisanya masing-masing untuk air dan udara.
Kalau hal ini terjadi terus-menerus, maka akan mempercepat kerusakan lambung. Akan tetapi, kalau sekali-sekali, tidak apa-apa. Demikian menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, dan alasannya, karena Abu Hurairah radiallahu ‘anhu pernah minum susu sampai kekenyangan dan tidak kuat minum lagi, sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dan tidak melarangnya. Demikian pula sahabat lainnya.
Kekuatan tubuh bukan ditentukan oleh jumlah makanan yang masuk ke tubuh kita, melainkan menurut kesiapan tubuh menerimanya. Kalau perut terlalu penuh, pernapasan menjadi tidak sempurna. Akibatnya, zat-zat gizi dalam makanan itu tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Selanjutnya, kondisi tubuhpun tidak baik dan aktivitas akan berkurang.
Tentu saja efeknya adalah bukan hanya pada urusan dunia saja yang terlantar, ibadah yang semestinya kita laksanakan dengan sempurna dan semangat akhirnya menjadi tidak bermutu. Mengapa? Karena tubuh kita terasa berat dan malas/lamban.
Ada sebuah kisah menarik, dari Tsabit al-Bunani, salah seorang tabi’in yang berguru dan menyertai Anas bin Malik radiallahu ‘anhu selama duapuluh tahun, beliau menyebutkan:
Iblis pernah menampakkan diri kepada Nabi Yahya bin Zakariya ‘alaihis sallam, lalu beliaupun melihat di tubuh iblis terdapat banyak sendok dari berbagai jenis. Nabi Yahya ‘alaihis sallam bertanya, “Sendok apakah ini, hai iblis?”
Iblis menjawab, “Inilah rupa-rupa syahwat yang kugunakan menghancurkan anak Adam (manusia).”
Nabi Yahya ‘alaihis sallam bertanya lagi, “Apakah di situ ada bagianku?”
“(Ya), sering ketika engkau kenyang, kami membuatmu berat melakukan shalat dan zikir,” kata iblis.
“Adakah yang lain?” tanya Nabi Yahya ‘alaihis sallam.
“Tidak,” jawab iblis.
Nabi Yahya ‘alaihis sallam pun berkata, “Demi Allah, aku tidak akan membiarkan perutku penuh dengan makanan selama-lamanya.”
“Demi Allah, aku tidak akan menasihati seorang muslim pun, selama-lamanya,” sambung iblis.
Kenyang atau syab’u bukan berarti penuh sesak, melainkan kecukupan gizi yang sesuai untuk tubuh kita. Di dalam hadits ini, ada hikmah lain yang tersirat, bahwa ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita makan dan minum semata-mata karena dorongan selera dan lezatnya makanan dan minuman tersebut. Namun, itupun, bukan berarti kita harus memakan sesuatu yang tidak kita sukai, karena bisa jadi, bahayanya lebih banyak daripada manfaatnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, tidak menolak makanan yang dihidangkan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali bila makanan tersebut bukan yang biasa dimakan oleh masyarakat di daerah beliau menetap. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan. Kalau beliau suka, beliau meyantapnya. Kalau tidak, beliau meninggalkannya.
Di antara makanan yang disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah daging kambing, kaki depannya, karena lebih mudah dicerna. Ini adalah salah satu cara agar lambung kita tidak bekerja berat mengolah makanan.
Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Saya tidak makan sambil bersandar (bertelekan).”
Di antara maksud hadits ini ialah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak duduk sambil bersandar (bertelekan) seperti mereka yang banyak makannya. Hal ini tentu saja akan membawa kepada sikap berlebihan dalam hal makan, merasa belum kenyang, akhirnya memasukkan lagi makanan berikutnya sehingga perut penuh sesak.
Dalam hal gigi dan mulut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sangat memerhatikan kesehatannya. Beliau tidak pernah meninggalkan siwak (kayu untuk gosok gigi), bahkan hingga akhir hayatnya, selalu menjaga kebersihan mulut dan gigi dengan siwak, sebagaimana diriwayatkan Bunda ‘Aisyah radiallahu ‘anha.
Tidur. Bagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatur tidur beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan pernah beliau menegur dengan keras sebagian sahabat yang karena begitu cinta dan semangatnya meniru beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, bertekad untuk bangun mengerjakan shalat sepanjang malam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun malam, juga tidur.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur lebih dini, sesudah shalat ‘Isya, tidak mengisinya dengan obrolan yang tak berarti. Kemudian, beliau bangun juga lebih dini. Inilah tidur beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari.
Siang hari, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hampir selalu tidur siang atau qaylulah. Salah satu hikmahnya sebagaimana diriwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, bahwasanya setan tidak tidur siang.
Inilah sekilas pengantar bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita memerhatikan kesehatan melalui perbaikan terhadap pola makan yang sering menjadi pemicu sejumlah penyakit yang berbahaya bagi tubuh dan hati kita. Wallahu a’lam bish shawab





Source

0 komentar:

Posting Komentar

 
Toggle Footer