Berita Terbaru :
Reason Bulughul Maram Five in One 150 Ibadah Ringan Berpahala Besar Cant See You, Cant Hear You, But Love You (Buku 1)

Minggu, 28 Juli 2013

Halal dan Haram Kawat Gigi

06.59

AyoReading: Halal dan Haram Kawat Gigi~Kawat gigi atau behel sudah lumrah di zaman ini sudah, sudah mulai banyak yang memakai baik wanita maupun laki-laki. Awalnya kawat gigi untuk meratakan gigi akan tetapi sekarang menjadi trend karena bagi sebagian orang kawat gigi membuat penampilan menjadi lebih baik atau tepatnya untuk penampilan/berhias.
Boleh untuk pengobatan
Pada hukum asalnya haram mengubah ciptaan Allah, misalnya operasi mengecilkan hidung dan operasi ganti kelamin.
Allah Ta’ala berfirman,
“dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya”. (An-Nisa’ :119)
Akan tetapi untuk pengobatan dan mengembalikan ke dalam bentuk ciptaan Allah maka hukumnya boleh. Misalnya operasi hidrocepalus, operasi pengangkatan tumor, operasi cacat bawaan.
Sebagaimana riwayat sahabat Urfujah bin As’ad radhiallahu ‘anhu, ia menggunakan emas untuk memperbaiki hidungnya, padahal emas harambagi laki-laki. Maka mengembalikan susunan gigi yang tidak rata,misalnya gigi maju kedepan dan mersukan penampilan, maka hukumnya boleh.
“Hidungnya terkena senjata pada peristiwa perang Al-Kulab di zaman jahiliyah. Kemudian beliau tambal dengan perak, namun hidungnya malah membusuk. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk menggunakan tambal hidung dari emas.” [1]
Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah berkata,“Jika ada kebutuhan untuk meratakan gigi misalnya susunan gigi tampak jelek sehingga perlu diratakan maka hukumnya tidak mengapa/mubah..jika pengobatan ini (meratakan gigi), dengan tujuan menghilangkan penampilan gigi yang jelek atau ada kebutuhan yang lain semisal seorang itu tidak bisa makan dengan baik kecuali jika susunan gigi diperbaiki dan ditata ulang maka hal tersebut hukumnya tidak mengapa/mubah.”[2]
Sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang mencukur alis, mengkikir gigi, menyambung rambut, dan mentato, kecuali karena penyakit.” [3]
As-Syaukani menjelaskan,“Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘kecuali karena penyakit’ dzahir maksudnya bahwa keharaman yang disebutkan,yaitu jika dilakukan untuk tujuan memperindah penampilan, bukan untuk menghilangkan penyakit atau cacat, karena semacam ini tidak haram.”[4]
Haram untuk sekadar berhias
Memasang kawat gigi/behel termasuk mengotak-atik gigi (bisa kita lihat dalam prosesnya) maka ada nash larangan mengenai hal ini.
Sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,“Semoga Allah melaknat orang yang mentato, yang minta ditato, yang mencabut alis, yang minta dikerok alis, yang merenggangkan gigi, untuk memperindah penampilan, yang mengubah ciptaan Allah.” [5]
Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah berkata,“Adapun jika tidak ada kebutuhan untuk itu (mengotak-atik gigi) maka hukumnya tidak boleh. Bahkan terdapat larangan meruncingkan dan mengikir gigi agar nampak indah. Terdapat ancaman keras atas tindakan ini karena hal ini adalah suatu yang sia-sia dan termasuk mengubah ciptaan Allah.”[6]
Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan,“Adapaun Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yang merenggangkan gigi, untuk memperindah penampilan” maksudnya melakukan hal itu untuk mendapatkan penampilan yang baik. Dalam hadis ini terdapat isyarat bahwa yang diharamkan adalah melakukan perenggangan gigi untuk memperindah penampilan. Namun jika dilakukan karena kebutuhan, baik untuk pengobatan atau karena cacat di gigi atau semacamnya maka hukumny a tidak mengapa/mubah.”[7]
(muslimafiyah/dr. Raehanul Bahraen)
[1] HR. An-Nasai 5161, Abu Daud 4232, dihasankan oleh Al-Albani
[2] Sumber: http://islamqa.com/ar/ref/21255/%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%84%D9%85
[3] HR. Ahmad 3945 dan sanadnya dinilai kuat oleh Syuaib Al-Arnaut
[4] Nailul Authar, 6/229, Darul Hadits, Mesir, cet. I, 1413H, syamilah
[5] HR. Bukhari 4886
[6] Sumber: http://islamqa.com/ar/ref/21255/%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%84%D9%85
[7]  Syarh Shahih Muslim14/107, Dar Ihya’ At-Turast, Beirut, cet. II, 1392 H, syamilah
Source

0 komentar:

Posting Komentar

 
Toggle Footer