Berita Terbaru :
Reason Bulughul Maram Five in One 150 Ibadah Ringan Berpahala Besar Cant See You, Cant Hear You, But Love You (Buku 1)

Senin, 25 Juli 2011

5.Kerusakan Valentine’s Day

14.49
Alhamdulillahilladzi hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fih kama
yuhibbu robbuna wa yardho. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina
Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Banyak kalangan pasti sudah mengenal hari valentine(Valentine’s Day). Hari tersebut dirayakan sebagai suatu perwujudan
cinta kasih seseorang. Perwujudan yang bukan hanya untuk sepasang
muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Namun, hari tersebut memiliki
makna yang lebih luas lagi. Di antaranya kasih sayang antara sesama,
pasangan suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik dan lainnya.
Sehingga valentine’s day biasa disebut pula dengan hari kasih sayang.

Cikal Bakal Hari Valentine
Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul Valentine’s Day. Namun, pada umumnya kebanyakan orang
mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala
bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15
Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah
rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari).
Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of
feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi
nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil
nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi
pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan
obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa
Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda
melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut
karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih
subur.
Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma,
penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi
upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain
mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di
antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I
(The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih
mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I
menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja
dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine
yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia
1998).
Kaitan Hari Kasih Sayang dengan ValentineKaitan Hari Kasih Sayang dengan Valentine
The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan
ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di
antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun
demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang
dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap
dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah
Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi.
Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat
dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap
tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan
peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para
pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan
dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book
Encyclopedia, 1998).
Versi lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus
akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena
memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta
kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari
Valentinusmu”. (Sumber pembahasan di atas: http://id.wikipedia.org/
dan lain-lain)

Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:
1.  Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno
yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan. 
2.  Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari
perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif
Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama
Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14
Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine. 
3.  Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh
nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta. 
4.  Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan
valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”. 
Sungguh ironis memang kondisi umat Islam saat ini. Sebagian orang
mungkin sudah mengetahui kenyataan sejarah di atas. Seolah-olah
mereka menutup mata dan menyatakan boleh-boleh saja merayakan
hari valentine yang cikal bakal sebenarnya adalah ritual paganisme.
Sudah sepatutnya kaum muslimin berpikir, tidak sepantasnya mereka
merayakan hari tersebut setelah jelas-jelas nyata bahwa ritual
valentine adalah ritual non muslim bahkan bermula dari ritual
paganisme.
Selanjutnya kita akan melihat berbagai kerusakan yang ada di hari
Valentine.

Kerusakan Pertama: Merayakan Valentine Berarti Meniru Kerusakan orang kafir
Agama Islam telah melarang kita meniru-niru orang kafir (baca:
tasyabbuh). Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, juga dapat
ditemukan dalam beberapa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama (baca:
ijma’). Inilah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
dalam kitab beliau Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim (Ta’liq: Dr. Nashir
bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql, terbitan Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah).

Kerusakan Kedua: Menghadiri Perayaan Orang kafir bukan ciri orang beriman

Allah Ta’ala sendiri telah mencirikan sifat orang-orang beriman.
Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri ritual atau
perayaan orang-orang musyrik dan ini berarti tidak boleh umat Islam
merayakan perayaan agama lain semacam valentine.

Ketiga: Ucapan Selamat Berakibat Terjerumus Dalam Kesyirikan dan Maksiat

“Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti: “Yang
Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini
ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. (Dari
berbagai sumber)
Oleh karena itu disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi
“To be my valentine (Jadilah valentineku)”, berarti sama dengan kita
meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini
merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan
Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala.
Kami pun telah kemukakan di awal bahwa hari valentine jelas-jelas
adalah perayaan nashrani, bahkan semula adalah ritual paganisme.
Oleh karena itu, mengucapkan selamat hari kasih sayang atau ucapan
selamat dalam hari raya orang kafir lainnya adalah sesuatu yang
diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum
muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim
rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah (1/441, Asy
Syamilah). Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi
ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-
orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal atau selamat hari
valentine, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’
(kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan
selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan,
‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan
ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau
memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran,
namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan
selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita
mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib,
bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan
selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang
memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras,
membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.”

Kerusakan Keempat: Hari Kasih Sayang Menjadi Hari Semangat Berzina
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran.
Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa
dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari
simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik
dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana
seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek
zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta
kasih.
Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa
melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran,
bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual
di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya,
semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzu billah min
dzalik.
Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya.

Kerusakan kelima:Meniru perbuatan syetan

Naudzubillahi himindzalik...................................Semoga Allah selalu meluruskan jalan kita.Amien.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Toggle Footer